Kamuflase: Permata di Tumpukan Sampah

 


Belenggu malu tak berkesudahan,

gengsi bersemedi di ruang diri.

Bermestapa, tak kenal hari,

menggumpal kegalauan, menyiksa diri,

meronta, mengutuk kemalangan hari.

Apa arti cinta jika sama yang dirasa,

mrngandalkan ego berkedok tingkah?

Padahal keduanya sama meronta,

bersama bahagia hingga menua.

Lalu?

Mati dimakan rindu tanpa rambu,

lelah menggerogoti yang tak berespon.

Apa yang dinanti?

Memaksa diri tetap gengsi?

Itu percuma, membuang waktu.

Sadari sebelum lenyap dan mati.

Bergeraklah!


Penulis : M. Alief Musthafa El Mahbub*

*Santri pondok pesantren Annuqoyah Latee yang menempuh studi di Universitas Annuqoyah.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama