Tulisan ini bermula saat penulis terlibat diskusi dalam forum akademisi kampus perihal apakah gambaran sungai atau buah-buahan yang sering ditampilkan dalam Al-Quran merupakan realitas hakiki atau hanya sebuah simbolik belaka? pertanyaan ini muncul karena mengingat Al-Quran yang diturunkan di kawasan jazirah Arab—tempat yang dikenal gersang dan dipenuhi gurun-gurun pasir—sehingga gambaran-gambaran tadi dinilai sebagai penggugah perasaan masyarakat Arab pada saat itu.
jika memang demikian, hal itu kemudian menjadi sebuah problematika tentang konteks geografis saat ini, mengingat Al-Quran adalah pedoman umat Islam seluruh dunia dan bukan hanya untuk masyarakat arab zaman Nabi. Bagaimana dengan realitas geografis saat ini yang sudah jauh berbeda, sungai-sungai mengalir, pohon-pohon berbuah dengan suburnya, apakah realitas ini akan menurunkan kadar persuasif yang ditawarkan Al-Quran? Kemudian lebih jauh lagi, tidakkah hal ini juga bertentangan dengan sebuah Hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Allah berfirman: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak Pernah Didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”— HR. Bukhari (3244), Muslim (2824).
Dari titik inilah kita akan berusaha menelusuri bagaimana perspektif ulama klasik serta kontemporer memandang problematika demikian, serta membawa kita menuju pembahasan terhadap salah satu konsep penting dalam Ulumul Quran yaitu: Amtsal (perumpamaan)
Tak asing kita jumpai dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang berbagai kenikmatan yang disuguhkan pada orang beriman dalam surga, termasuk sungai-sungai yang mengalir dan buah-buahan serta kenikmatan lainnya. Namun di sini penulis hanya akan menyuguhkan penafsiran dua ayat Al-Quran yaitu: (Q.S Muhammad ayat 15), (Q.S Al-Baqarah ayat 25). Pertama, kita harus pahami terlebih dahulu matsal menurut ulama serta urgensinya.
Matsal dan urgensinya
Aj-Jurjani dalam At-Ta’rifat, menjelaskan bahwa matsal adalah ungkapan yang ditujukan untuk memalingkan makna yang abstrak kepada sesuatu yang inderawi. Dengan kata lain, matsal tidak dipahami secara literal namun hanya sebagai akses pemahaman. lebih lanjut As-Suyuti menerangkan bahwa matsal sebagai alat pengajaran, peringatan, ataupun penguat. Karena menurutnya, perumpamaan lebih mudah memengaruhi manusia daripada perintah langsung. Dari sini kita dapat memahami bahwa matsal adalah alat untuk menjembatani pemahaman realitas spiritual menuju realitas fisik.
Al-Quran tentunya membutuhkan alat sebagai bentuk akses manusia dapat percaya dan memahami hal-hal metafisik yang diterangkan di dalamnya. Maka, dengan matsal ini Al-Quran menjelaskan tentang bagaimana kenikmatan surga yang tidak dapat dijangkau oleh inderawi menjadi sesuatu yang empiris. Kemudian jika menggunakan pemahaman demikian, maka dalam masalah kenikmatan surgawi seperti sungai, buah-buahan dan lainnya yang biasa disebut dalam Al-Quran menemukan titik terang. Namun rasanya tidak adil jika hanya menggunakan pendekatan teoretik bahasa, jika kita tidak mengetahui langsung bagaimana penafsiran ulama mengenai ayat-ayat kenikmatan surgawi dalam (Q.S Muhammad:15) (Q.S Al-Baqarah:25).
Tafsir klasik ayat surgawi
Jika kita membaca beberapa kitab tafsir klasik seperti At-Tabari dan Ibn Katsir, maka ketika sampai pada ayat-ayat surgawi seperti pada (Q.S Muhammad:15) (Q.S Al-Baqarah:25) maka akan terdapat penafsiran secara literal tanpa menggunakan Ta’wil, dengan bersumber pada hadis nabi ataupun Atsar sahabat. Seperti penafsiran At-tabari dalam surah Muhammad ayat 15, dengan meriwayatkan dari Ibn Abbas Beliau menafsirkan Lafaz “فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ” dengan “Ghairu mutaghayyir” yaitu air sungai asli, tidak berubah. Kemudian pada lafaz “وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ” Beliau menafsirkan dengan Sungai khamr yang begitu lezat ketika diminum oleh penduduk surga. Selanjutnya, Ibn Katsir dalam menafsirkan ayat “تجري من تحتها الأنها” pada surah Al-Baqarah ayat 25 beliau mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa sungai-sungai di surga memancar dari bawah bukit atau Gunung Kesturi. Dari beberapa penafsiran tadi dapat dismpulkan bahwa ulama-ulama klasik seperti At-Tabari dan Ibn Katsir jelas lebih mendahulukan penafsiran secara literal daripada menggunakan Ta’wil, dengan menyandarkan penafsirannya pada hadis Nabi ataupun asar sahabat. Dengan kata lain mereka memandang bahwa kenikmatan surgawi seperti sungai dan lainnya merupakan realitas hakiki di surga dan akan dirasakan secara empiris oleh para penghuninya. Meski hakikatnya berbeda dengan realitas yang ada di dunia.
Tafsir Kontemporer ayat surgawi
Setelah sebelumnya disebutkan bahwa ulama-ulama klasik seperti At-Tabari dan Ibn Katsir menggunakan pendekatan literal dalam menafsirkan ayat-ayat surgawi, Sebagian mufassir kontemporer mencoba menawarkan pendekatan yang lebih rasional dan kontekstual. Dalam Tafsir Al-Manar, Rasyid Ridha memberikan penjelasan tentang ayat “تجري من تحتها الأنهار” bahwa andai dalam konteks surgawi Allah menggunakan kata Jannah/Jannat saja (tanpa memberikan gambaran lebih lanjut) maka penafsirannya wajib tafwid (diserahkan pada Allah) namun selanjutnya Ridha menyebut bahwa banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang deskripsi Jannah/Jannat dengan menyebutkan berbagai jenis pohon serta jenis buah-buahannya, maka Ridha berpendapat bahwa deskripsi tersebut merupakan realitas hakiki, bukan perumpamaan (Tasybih). Dengan kata lain ia juga berpendapat bahwa kenikmatan surgawi termasuk sungai dan lainnya adalah riil.
Fazlur Rahman dalam Major Themes of Quran juga menyinggung tentang pembahasan ayat-ayat eskatologis, ia menyatakan bahwa ayat tentang kenikmatan surga bukanlah bentuk metafora murni, namun bentuk pendekatan bahasa yang dimaksudkan untuk menggambarkan efek-efek ini sebagai pengalaman nyata secara spiritual-fisik (physical and spiritual pleasure).
Dalam ragam pendapat yang disampaikan para ulama, semua mengerucut pada pernyataan bahwa kenikmatan-kenikmatan surgawi yang terdeskripsi dalam Al-Quran adalah hal yang hakiki adanya, namun semua juga sepakat bahwa entitasnya berbeda dengan realitas fisik yang ada di dunia. Jadi, apakah di surga ada sungai, susu, khamr dan kenikmatan lainnya? jawabannya, ya ada. Namun tidak sama dengan realitas yang ada di dunia dan di benak manusia.
Pada akhirnya, kita juga hanya bisa meraba-raba seperti apa kenikmatan-kenikmatan yang Allah janjikan, sesuai dengan hadis Nabi di awal. Gambaran material yang ada di surga hanyalah sama dalam konteks bahasa manusia, ia digunakan untuk memberikan deskriptif nyata bagi manusia (tashwir majazi), namun hakikat entitasnya adalah Trans-Empiris dan tidak identik dengan realitas fisik yang ada di dunia.
Surga mungkin tak bisa kita bayangkan secara komprehensif. Namun melalui bahasa matsal, Al-Qur’an memberi kita sebuah pelita: bahwa jauh di akhir muara perjalanan iman, terdapat sebuah value (nilai) yang jauh melampaui kenikmatan duniawi.
Maka, fokus utama kita adalah bukanlah bagaimana bentuk rupa kenikmatan surga, tetapi bagaimana langkah kita menapak menuju ke sana. Wallahu A’lam
Penulis: Moh. Zajil Aqil*
Editor: Muhammad Chilal Abdallah
*Santri Rayon K. H Ahmad Basyir AS, PPA. Latee, yang menempuh pendidikan di Prodi Ilmu Quran Tafsir Universitas Annuqayah
