Mereka berlalu-lalang, tanpa beban, senyuman merekah di setiap mulut. Matahari lembut bersinar, radio menyiarkan ramalan cuaca akan cerah tiga hari ke depan. Orang-orang menyambut hari dengan hati terbuka. Macet di jalanan tak menjadi alasan untuk merasa kesal, sebaliknya, orang-orang aneh itu malah saling melempar senyum, menyemangati satu sama lain. Tak ada klakson nyaring memekakkan telinga, yang ada hanya tawa.
Ini membuatku jengkel. Mereka seperti badut panggung. Mana ada manusia yang berjalan di muka bumi ini hanya bermodal senyuman, tak masuk logika. Bagiku lebih baik memilih tersiksa daripada dipaksa bahagia, karena ada beberapa situasi yang harus dihadapi dengan emosi lain—bukannya setiap emosi positif selalu membutuhkan pasangan negatif agar bisa dikenali, kita merasa dingin karena ada hangat, hidup karena mati, ada karena tiada, bahagia sebab derita; seorang pemenang merasa puas bukan karena ia memegang piala, melainkan penderitaan dan seluruh perjuangannya yang terbayar lunas. Kebahagiaan dan penderitaan adalah dua sisi yang tak terpisah.
Aku memarkirkan mobil. Mengambil setumpuk buku panduan materi. Berjalan dengan wajah kusut, acuh tak acuh dengan sapaan rekan sejawat. Bulu kudukku merinding, mereka semua tersenyum. Bagiku itu seperti niat jahat yang diumbar, panji perang yang dikobarkan musuh.
Ketika dering bel berbunyi. Para siswa berhambur masuk ke kelas masing-masing. Koridor menjadi sunyi, menyisakan gema langkahku sendiri. Bau spidol dan kertas lembap menguar dari setiap celah kelas yang tertutup rapat. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti tengkuk. Tapi semakin dekat ke ruanganku, semakin kuat perasaan aneh itu mencengkeram—seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang terlalu rapi.
Kukibaskan tangan pada gagang pintu kelas. Berdecit pelan, lalu terbuka.
Beberapa siswa yang sudah duduk manis serempak menoleh. seperti sebuah mekanisme yang sudah diprogram, mereka… tersenyum. Senyum yang terlalu lebar, terlalu serempak, terlalu kaku.
“Pagi murid-murid” Tanyaku malas.
“Pagi, Pak!” Mereka menjawab tanpa jeda sedikit pun.
Aku mengerjap. Ada sesuatu yang dingin menjalar dari ujung jari ke dada. Sebuah perasaan yang tak pernah kusukai. Kulempar setumpuk kertas ke meja, tapi bahkan bunyi gebrakannya tidak mengusik ketenangan mereka. Mereka hanya menatapku dengan mata berbinar.
“Baiklah” Desahku. “Kita langsung saja mulai pembelajaran hari ini”
Aku mengambil sebuah spidol. Suara ceklek tutupnya terdengar lebih keras dari biasanya—atau justru ruang ini yang terlalu sunyi dari kegaduhan manusia normal. Kucoretkan materi di papan.
Itulah saat ketika aku mendengar.
“Tiga… dua… satu…” Bisik seorang siswa di baris tengah. Suaranya sangat pelan, tapi cukup untuk membuatku jengkel.
Aku memutar tubuh. “Kamu bilang apa barusan?”
Dia tersenyum. Yang lain ikut tersenyum lebih lebar lagi. Dan kemudian, serempak, mereka membuka mulut. Bukan untuk menjawab. Melainkan bernyanyi.
Lagu riang. Nada sederhana. Lirik yang tak masuk akal:
“Hari ini cerah, hati kita cerah, semua baik-baik saja…”
Setiap kata jatuh seperti tetesan sirup yang terlalu manis, menempel lengket pada udara hingga membuatku ingin muntah. Mereka bukan hanya menyanyi—melainkan memperagakan kegembiraan dengan cara yang tak lagi terlihat manusiawi.
Aku melangkah mundur perlahan-lahan. Hatiku heran, pikiranku bingung. Ekspresi mereka terlalu bahagia untuk seorang manusia.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Kami sedang bernyanyi pak, merayakan kegembiraan atas penderitaan bapak”
“Aneh… kalian terlalu aneh, ANEH! mengapa kalian bisa merasa bahagia setiap saat, setiap waktu, bahkan… sepanjang hidup. MENGAPA?!”
“Aneh? bapak yang aneh” Ucap seorang anak yang buta.
“Pak, lihat saya, anak yang telah buta sejak lahir. Tapi itu tak menjadi penghalang untuk merasa bahagia. Jika mata saya normal, bapak kira saya akan sepanjang hari menikmati karya seni yang terpajang rapi di museum? Tidak pak, itu hanya menjadikan saya lebih menghargai seni”
Kalimatnya tajam menghujam sanubariku, bahkan di titik relung paling dalam. Aku terdiam. Mulutku bungkam. Anak ini, ia bahkan tak bisa melihatku. Sedang aku bisa melihatnya. Tapi mengapa? Mengapa dia bisa bahagia? Bukankah seharusnya itu akan terasa ketika ia telah sembuh dari kebutaanya?
Aneh.
Terlalu aneh.
Aku memutuskan keluar dari kelas. Berjalan mondar-mandir menuju kantor. Di pikiranku masih terngiang-ngiang ucapan anak buta itu. Apa yang ia maksud? Otakku tak sampai mengambil kesimpulan.
Pada jam KBM seperti ini kantor terlihat makin sepi, semua guru pergi mengisi kelasnya masing-masing. Tapi aku merasa ada yang janggal, sekelebat kulirik ada seseorang yang masih duduk diam di pojok ruangan. Terbawa rasa penasaran, aku pergi menghampiri.
“Permisi, apa ada orang di sana?” Suaraku menggema ke seluruh sudut ruangan pengap ini, masih tak ada jawaban yang terdengar.
“Apa yang kau lakukan di saat jam aktif seperti sekarang? bukankah seharusnya kau pergi mengajar?”
Aku menoleh terkejut, tersadar bahwa itu adalah suara kepala sekolah.
“Entahlah, aku merasa malas saat ini, anak-anak berperingai sangat aneh. Aku tak tahan dan kuputuskan meninggalkan mereka”
Kepala sekolah tersenyum mendengar alasanku. Lagi dan lagi, hanya senyum yang kulihat sepanjang hari ini.
“Aku tahu kenapa kau meninggalkan ruang kelas. Semua telah kuduga bahkan sebelum kau bangun dari tidurmu pagi tadi” Ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Aku melipat dahi, bingung dengan apa yang dimaksud orang ini. Apa dia juga ikut stres?
“Semua ini adalah mahakaryaku. Seantero desa telah berhasil ku buat menjadi layaknya surga; tak ada lagi penderitaan, tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi kejahatan. Semua orang bahagia tanpa terkecuali. Itulah mengapa aku bahagia. Tapi sayang, rencana ini tak berjalan mulus seperti dugaan awal. Ada satu orang yang tak berhasil ku buat bahagia”
Aku diam tak menimpali.
“Itu adalah dirimu”
Bangsat! apa ini.
“Jadi, maukah kau berbahagia?”
“Maaf, tidak terima-kasih. Aku cukup bahagia karena bisa menderita”
Penulis: M. Chilal Abdallah A.T*
Editor : Muhammed Naveed A.
*Alumnus LIKRA yang gemar berkelakar
