Kebanyakan
orang mengenal Madura dengan streotip budayanya yang keras, seperti carok. Namun, berbeda dengan buku ini.
Kumpulan cerpen yang ditulis oleh seorang sastrawan asal Pamekasan ini akan
membawa pembaca untuk lebih mendalami satu per satu lapisan budaya dan kultur
Madura yang tak hanya kental dan kuat tapi juga sarat akan makna.
Misal, dalam cerpen pertamanya, Kandung Kembar. Masyari menceritakan kisah seorang wanita yang sudah delapan tahun menikah namun tak kunjung juga memiliki buah hati. Wanita ini harus menghadapi berbagai ledekan dan ejekan dari teman-temannya yang menyangkanya mandul, demikian juga sang suami.
Hingga pada tahun kedelapan pernikahannya, ia pun dinyatakan positif hamil. Berbagai peraturan ketat dari mertuanya mulai diterapkan. Wanita itu terpaksa mematuhi aturan-aturan sang mertua meski ia merasa sangat tidak nyaman. Dua bulan berselang, dua adik iparnya yang baru setahun menikah menyusul dengan usia kandungan yang hampir sama.
Acara rokat kandung kembar pun mulai direncanakan. Hal yang paling wanita
itu benci, sebab dianggap sebagai praktik jahiliyah. Hingga pada puncak acara,
ia tak mau melepas sandal bertumit tingginya karena ia anggap sebagai bentuk
penghinaan. Padahal, tujuan hal itu tak lain hanya demi mengecilkan diri di
hadapan Sang Ilahi yang Maha Tinggi.
Keegoisan wanita tersebut akhirnya
membawa dia menuju malapetaka. Ia kehilangan janin saat sandalnya terpeleset di
tangga, dan perutnya tertusuk runcing pedal sepeda yang tinggal besinya setelah
seorang anak meninggalkannya di halaman. Demikian salah satu cerpen Masyari
menyuguhkan kisah sebuah tradisi yang dianggap sebagai cara jahiliyah namun
sebenarnya sarat makna dan memiliki tujuan mendalam.
Begitulah bagaimana orang-orang
terdahulu berdoa. Tak cukup hanya dengan menadah tangan atau melafalkan
ayat-ayat al-Quran. Masyari dengan cermat menunjukkan bahwa berbagai prosesi dilakukan
bukanlah sekedar ritual kosong, tetapi merupakan simbol permohonan sekaligus
pesan yang memiliki hikmah tersendiri dan mengandung nilai-nilai moral serta
spiritual yang mendalam.
Demikian pula cerpen Masyari yang
lain, bertajuk Burung Tua. Cerpen ini
mengisahkan perdebatan antara pasangan suami istri lantaran sang ibu mertua
yang bersikokoh ingin membuat Tajin
Sappar. Sebuah tradisi di mana seseorang akan membuat bubur pada bulan
safar dengan porsi besar. Lalu dibagikan kepada para tetangga.
Saat pembuatannya pun para tetangga
akan datang membantu tanpa ada instruksi siapapun, menggambarkan rasa
kebersamaan di antara para warga. Berbeda dengan menantunya, ia sangat menolak
keinginan sang mertua. Ia menolaknya dengan berbagai alasan. Mulai dari proses
pembuatan yang dianggap merepotkan hingga keributan yang dihasilkan anak-anak
tetangga, menghancurkan bunga dan tanaman hiasnya. Inilah yang membuatnya
sangat menolak rencana tersebut.
Masyari menceritakan bagaimana sang
menantu yang tanpa ia sadari membuat ibu mertuanya terisolasi dan terpenjara di
rumahnya sendiri. Kebersamaan yang hidup dalam tradisi dijadikan terbatas. Teriakan
tetangga yang meminta sayur-sayuran di sekeliling rumah kini telah tiada karena
telah diberantas dan digantikan dengan pagar yang membatasi akses rumah.
Akhirnya, perdebatan sang menantu
dengan suami membuat dirinya sadar bahwa ia telah menghapus tradisi baik yang sudah
hidup di masyarakat. Tradisi yang selalu menggambarkan kebersamaan kini hilang
karena egonya. Begitulah, secara perlahan Masyari mengajak pembaca memasuki
kultur Madura. Termasuk memperlihatkan bagaimana perselisihan dapat memicu
konflik berkepanjangan dalam masyarakat.
Kumpulan cerpen ini menggambarkan
bagaimana tradisi Madura yang meskipun tampak sederhana namun menyimpan makna
dan nilai yang kental nan kuat. Buku ini adalah sebuah harta karun bagi mereka
yang ingin mendalami dan mengeksplorasi lebih jauh kultur Madura. Buku ini bisa
dibaca oleh semua kalangan, dengan gaya bahasa unik Masyari memberikan
pemahaman mendalam tentang budaya madura.
Kekurangan dari buku ini hanyalah
terletak pada keterbatasan cakupan tema. Meskipun berhasil mengupas tradisi dan
budaya Madura dengan mendalam, fokus cerita buku ini cenderung hanya menyoroti
budaya dan tradisi Madura dalam kerangka konflik internal keluarga atau
individu. Pembahasan tema lain seperti hubungan Madura dengan masyarakat luar,
perkembangan modernitas, atau tantangan global mungkin kurang tergali.
Judul buku : Kembang Selir
Penulis : Muna Masyari
Penerbit : Diva Press
Cetakan : Pertama, Juni 2023
Tebal : 132 Halaman
ISBN : 978-623-189-210-2
Harga : 50.000 (P. Jawa)
Penulis : M. Syahirul Ezzy*
Editor: Muhammed Naveed A.
*Santri Rayon KH. Ahmad Basyir PPA. Annuqayah Daerah Latee. Sekretaris Lembaga Pers Siswa (LPS) SMA Annuqayah
