Di sebuah tempat yang katanya menganut sistem demokrasi pancasila, lahirlah seorang filsuf legendaris bernama Gibralto Rakabumos, murid kesayangan Jokovis Dodos, pemikir agung yang percaya bahwa kegagalan nasional bukan disebabkan oleh kesalahan sistem, melainkan oleh “gerakan yang terlalu berarah”. Dari benih pemikiran inilah lahir konsep monumental: Diam tolah-toleh, bergerak salah kabeh.
Hari ini matahari lembut bersinar. Burung-burung berkicau merdu, langit biru pertanda cerah akan selalu menyertai langkah kami. Para kamerad, perkenalkan namaku Lubis, seorang pegawai kementerian arsip negara. Tugasku sederhana: mencatat semua keputusan yang tak pernah jadi keputusan.
Aku adalah pribadi yang selalu tunduk, semua pidato maupun “kulduperi” (kuliah dua periode) hafal luar kepala. Ya… meskipun aku tak pernah mengerti apakah aku ini hidup di negeri filsafat atau eksperimen sosial yang lupa ditutup.
Sstt… pemimpin rapat lagi bicara.
“Selamat pagi saudara-saudara sekalian, terima kasih sudah berkenan hadir dalam rapat nasional kali ini. Sebelum dimulai, saya harap kalian semua bersikap kondusif, tenang dan tentram. karena hari ini, pemimpin agung kita; beliau yang terhormat, dipuja seluruh nusantara, filsuf kontemporer yang meruntuhkan seluruh konsep metafisik, kiblat ilmu pengetahuan. Yang Mulia Bapak Gibralto Rakabumos, akan hadir dan secara langsung memimpin rapat kali ini”. Sambutan panjang kali lebar disampaikan oleh sekretaris negara. Semua hadirin, yang memang dari dulu tak pernah bergerak, tambah diam tak berkutik setelah mendengar ultimatum tersebut.
Aku bersiap membuka buku catatan yang putih bersih. menyiapkan perekam suara, menyalakan kamera dokumentasi. Lalu diam, menangkap semua gerakan kecil yang menandakan beliau akan segera hadir.
Satu menit.
Setengah jam.
Satu jam.
Tiba-tiba pintu berdecit pelan. Seluruh pengawal serentak memasang sikap tegak, sigap membungkuk, membuka pintu. Ini dia, akhirnya, setelah sekian lama tak kunjung hadir, akhirnya beliau datang. Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok sederhana namun elegan, berperawakan gagah tapi tak gigih, Bapak Gibralto. Ia melangkah dengan sangat pelan, seolah-olah waktu berhenti; tunduk pada aura 999+ beliau. Rekan-rekan tak ada yang bersuara, mereka ciut, tak sedikitpun berani bernafas dihadapannya.
Seusai catwalk di karpet merah, ia diam planga-plongo mencari singgasana. Entahlah, beliau seperti gelagapan, bingung. Akhirnya beliau duduk setelah diarahkan oleh asisten pribadinya: Brigadir Prabroro.
Ini dia! Sang maestro peradaban, sedang duduk manis di kursi yang terbuat dari kayu sawit. Diimpor langsung dari para rakyat. Selang sesaat, pemimpin rapat kemudian menghaturkan sembah, lalu berembuk sesuatu yang tak bisa didengar. Aku hanya melihat anggukan dan gelengan. Setelah selesai berbisik-bisik, si pemimpin rapat mengundurkan diri, berkata bahwa kali ini kita mendapat kesempatan emas untuk mendengarkan pidato kenegaraan yang akan dibawakan langsung oleh Bapak Gibralto.
Beliau buka suara. Aku kembali fokus pada tugasku.
“Pagi kawan-kawan, sebangsa dan setanah air. Hari ini saya berdiri di hadapan anda bukan untuk mengajak bergerak, sebab kita semua tahu, terlalu banyak bergerak sering berujung pada penyesalan. Saya ingin mengajak kalian diam—dengan penuh perhatian”.
Beliau diam sebentar. Kali ini benar-benar sebentar—gak lama.
“Kita hidup di zaman ketika manusia terlalu banyak melangkah, terlampau yakin pada arah, dan terlalu percaya bahwa tujuan selalu lebih penting ketimbang akibat. dari situlah lahir kesalahan-kesalahan yang kita rayakan atas nama kemajuan. Saya tidak menjanjikan kebenaran. Saya hanya menawarkan kehati-hatian. dan di negeri ini, kehati-hatian masih kita anggap sebagai bentuk tertinggi kebijaksanaan.
Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Terima-kasih. Silakan menoleh sebelum meninggalkan ruangan”
Aku mencatat semua (atau sedikit) yang disampaikan beliau, ku susun arsip-arsip dengan rapi—judulnya jelas, isinya kosong. Akhirnya, tugasku selesai, ini saatnya pulang.
Aku berjalan menyusuri koridor-koridor yang lengang, hanya suara pendingin ruangan yang berdengung. Saat melangkah keluar gedung, kakiku tersangkut pinggiran karpet protokol yang belum pernah diperbaiki karena masih dalam tahap kajian—eh maksudku pinggiran tembok gedung.
Aku terjatuh, dan sial!! tanpa sengaja aku bergerak maju.
Itu gerakan kecil. Biasa saja. Tak direncanakan. Namun anehnya, tanpa komando atasan, seluruh awak media yang awalnya akan meninggalkan gedung malah menyalakan kembali kamera mereka. Merekam aksi yang kulakukan tanpa sengaja. Orang-orang dibalakangku juga ikut terkejut, beberapa refleks ikut melangkah.
“Kamu ngapaiin!!” Bisik seseorang, panik.
“Aku jatuh, bodoh”. Jawabku jujur.
Kejadian itu menyebar dengan cepat, lebih cepat ketimbang penanganan bencana nasional. Esoknya, aku dipanggil oleh Komisi Etika Diam (KOMEDI). Di ruang sidang, para pejabat duduk bersila—mereka meyakini hal tersebut akan mencegah tindakan asusila (atau mereka memang anjing yang sedang duduk?)—memastikan tak ada satupun yang menghadap lurus kedepan.
“Kami dengar anda bergerak?” Kata ketua sidang dengan nada minor.
“Aku tidak sengaja pak”, Kataku.” itu sebuah kecelakaan”
Mereka saling menoleh, mencatat “kecelakaan” dengan hati-hati. Membuka kembali buku dasar pedoman UUD, dan menyadari bahwa kecelakaan tak tercantum di dalamnya, sehingga dianggap tidak berbahaya.
Tapi itu bukan kabar baik. Ketua sidang lalu melihatku dengan tampang prihatin.
“Namun, akibat gerakan anda” Lanjutnya, “beberapa proses jadi… berjalan”
Fuck! dalam budaya kami, pamali menyebutkan kata “berjalan”, siapapun yang berani mengatakannya akan ditimpa nasib sial. Para anggota sidang kebingungan, mereka lupa bagaimana cara mengatasi sebuah maslahah, maksudku masalah. Akhirnya sidang ditunda, seperti semua hal.
Beberapa hari kemudian, Yang Mulia Gibralto sendiri yang memintaku untuk menghadap pada hari selasa. Aku berangkat hari senin, sendirian tanpa ada pengacara atau pendamping. Tiba di halaman istana negara, aku dikawal oleh satu batalion tentara, mereka mengantarkan sebatas beranda, selebihnya aku harus berjalan sendiri. Aku masuk ke dalam, melihat sekeliling ruangan yang begitu luas tapi kosong. Beliau berdiri di dekat jendela, menoleh ke luar dan ke dalam secara bergantian.
“Kau tahu,” ucapnya tanpa aba-aba. “ideologiku sering disalahpahami”
“Maksud bapak?”
“Prinsipku sering dijadikan alasan untuk berhenti,” Jawabnya. “padahal maksudku hanya memperingatkan”
“Mohon maaf pak, sebelumnya bapak terinspirasi dari siapa kalau boleh tahu?”
Beliau tersenyum tipis.
“Jangan beri tahu siapapun, aku terinspirasi dari buku filsuf legendaris Patrick Star, yang terkenal dengan konsepnya: The art of doing nothing”
Untuk pertama kalinya, aku merasa itu bukan masalah.
Penulis: Muhammad Chilal Abdallah*
Editor: Muhammed Naveed A.
*Alumnus LIKRA yang menempuh studi di Universitas Annuqoyah
