Setelah keputusan Prabowo Subianto membawa nama besar Indonesia berkecimpung dalam Board of Peace (seterusnya disebut BoP) buatan Donald J. Trump. Adalah sebuah keputusan menantang. Sebab, jika kita baca tanggapan gelagat masyarakat Indonesia secara umum menunjukkan kekesalan, kejengkelan, hingga marah bercampur aduk.
Bagaimana tidak, BoP yang didirikan oleh Trump, yang tidak lain adalah sahabat sekaligus penyuplai senjata utama ke Netanyahu (Israel). Dengan gamblang mengumumkan pada dunia tujuan utama BoP itu sendiri; adalah mencapai perdamaian. Namun janggalnya dalam piagam BoP, tidak ada delegasi dari pemilik tanah Gaza, yaitu Palestina.
Kemudian muncullah pertanyaan, perdamaian oleh dan bagi siapa sebetulnya tanah Gaza? Bagi rakyat Palestina? Atau, bagi eksploitasi neokapitalisme?
Mengutip catatan penting dalam postingan akun Instagram Skenu, tentang pidato Dr. Taha Abderrahmane pasal problem Palestina. Beliau menjelaskan bahwa, permasalahan Palestina tidak cukup dipahami dari segi sejarah, hukum, serta politik. Karena pada hakikatnya, sengketa tersebut adalah tentang (kita istilahkan) tanah Tuhan. Karena hanya di tanah tersebut, tiga agama Abramaik mengimaninya sebagai tanah yang disucikan dan tempat pertemuan langit dan bumi (sebagaimana dijelaskan dalam catatan tersebut).
Kita bisa menilai bahwa awal mula sengketa ini adalah bermula dari iman yang berbeda, walakin lebih pada sikap toleransi dalam pemahaman. Golongan yang pertama menoleransi dua golongan berbeda sebagai manusia yang sama-sama mengimani adanya tuhan.
Golongan yang kedua juga menoleransi terhadap perbedaan yang ada. Namun, Golongan yang ketiga menolak sikap toleran kepada kedua golongan dengan alasan, "telah menodai tanah yang sudah dijanjikan beribu-ribu tahun yang lalu oleh tuhan mereka". Dari sinilah golongan ketiga mengobrak-abrik tatanan (menggenosida) masyarakat golongan pertama dan kedua, sebagai bentuk upaya pengusiran dari tanah yang hanya disucikan bagi mereka.
Kemudian, detik ini geopolitik internasional mengubah cara pandang golongan ketiga bersikap pada tanah tersebut. Dari pemurnian niat untuk memenuhi janji tuhan, ke eksploitasi kesempatan dalam kesempitan. Kita bisa merujuk pada visi besar BoP dalam menangani Gaza yang disebut The New Gaza Project. Yang di dalamnya menjelaskan bahwa kawasan tersebut akan direhabilitasi dengan pembangunan kawasan residental, komersial, industrial, dan lain-lain. Pertanyaan konyolnya: apakah perjanjian yang Tuhan titah, adalah termasuk perintah eksploitasi kawasan (termasuk menggenosida bentuk pembersihan masyarakat setempat)? Jika demikian, Tuhan macam apa itu!
Ditambah lagi, anggota yang bergabung di dalam BoP mayoritas adalah negara-negara dengan populasi pemeluk agama Islam yang banyak. Seperti Indonesia, Turki, Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Arab Saudi. Palestina di mana? Tak ada. Karena itu, hal ini adalah bentuk dari merekayasa ulang surga.
Penulis: Muhammed Naveed A.*
Editor: Miftahul Khair
*Alumnus LIKRA yang melanjutkan studi di Maroko.
